Kisah Penyelamatan Kopral Margono Di Kampung Urere, Teluk Wondama 1961

Wasior, Teluk Wondama, – Republik Indonesia genap berusia 74 tahun pada 17 Agustus 2019.  Di balik sejarah panjang pergerakan kemerdekaan Indonesia, termasuk integrasi Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi, terselip kisah heroik perjuangan orang Wandamen (sebutan untuk orang asli Teluk Wondama) menyelamatkan nyawa tentara Indonesia dalam Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda pada tahun 1961. 

Kisah heroik itu bermula ketika pasukan TNI yang tergabung dalam Komando Mandala untuk Pembebasan Irian Barat melakukan operasi terjun payung guna melumpuhkan kekuasaan Belanda di Papua, tepatnya pada Mei 1961.  Salah satu tempat yang menjadi sasaran adalah Kaimana. 

Namun penerjunan pasukan dari udara yang kemungkinan besar dilakukan pada malam hari itu tidak berjalan mulus. Sejumlah tentara tidak bisa mendarat pada titik yang telah ditentukan. 

Entah karena faktor apa sebagian dari mereka ‘nyasar’ dan kemudian jatuh di kawasan hutan di pedalaman Distrik Naikere, Kabupaten Teluk Wondama tepatnya di sekitar Kampung Urere.

Salah satu dari mereka diketahui bernama Margono, seorang prajurit muda berpangkat Kopral. Kopral Margono merupakan satu-satunya yang diketemukan dalam kondisi masih hidup yang kemudian diselamatkan oleh warga lokal setempat.

Salah seorang yang terlibat langsung dalam penyelamatan Kopral Margono adalah Benediktus Mbari, warga Kampung Webi, Distrik Rasiei. Pria 74 tahun inilah yang pertama kali menerima informasi dari warga lokal Urere tentang penemuan Kopral Margono. 

Ketika itu, Mbari masih berusia 17 tahun. Dia bercerita, saat operasi Trikora meletus masyarakat Wondama sedang dalam suasana perayaan ulang tahun Ratu Juliana dari Kerajaan Belanda. 

Kemudian datanglah perintah dari Manokwari agar dilakukan pencarian terhadap tentara Indonesia yang tersesat saat melakukan penerjunan di wilayah padang Urere. 

“Mereka katakan ada (tentara) Indonesia jatuh di Urere. Masyarakat saat itu ketakutan setengah mati. Baru ada (tim) dari Manokwari datang dan bawa anak buah untuk pergi survey ke sana,“ cerita Mbari saat ditemui di rumahnya, Rabu (17/8)

Karena ketakutan, warga dari bagian selatan hingga ke utara Wasior (saat itu belum terbentuk Kabupaten Teluk Wondama) beramai-ramai ikut bersama tim dari Manokwari menuju Urere untuk mencari tentara yang hilang.

“Yang bawa rombongan saat itu Geradus Yoteni karena dia yang tahu jalan di atas. Banyak sekali yang ikut karena komando (perintah) jadi kitong naik dari sini jalan kaki sampai ke Semba ada camp di situ, tidak sampai di Urere. Kitong tinggal di situ baru survey dorang (cari prajurit yang jatuh), kitong masuk keluar (hutan) tapi kitong tidak ketemu, “ tutur Mbari.

Tersangkut di Pohon 

Warga bersama tim akhirnya kembali dengan tangan hampa. Beberapa hari kemudian barulah datang informasi tentang adanya penemuan Kopral Margono. Orang yang pertama kali menemukan prajurit tersebut adalah warga lokal Kampung Urere bernama Obet Sabarnao.

Obet secara tak sengaja menemukan Margono saat dalam perjalanan berburu ke hutan. Awalnya anjing milik Obet menggonggong berulang kali karena mencium bau tubuh sang prajurit yang ternyata tersangkut di atas pohon melinjo atau dalam bahasa lokal disebut pohon genemo.

“Dia tergantung di atas dia tidak bisa berpegangan karena dahan genemo itu lombo (lembek). Dia tergantung sampai muka ini hitam karena darah turun. Kemungkinan sudah tergantung selama 1 minggu, “ kata Mbari. 

Mendengar ada anjing menggonggong, Kopral Margono kemudian berteriak minta tolong. Obet mendekat dan hendak menolong. Namun dia mengurungkan niatnya lantaran melihat si tentara dalam posisi memegang senjata laras panjang. Obet takut dan memilih menjauh. 

Namun hatinya tidak tega setelah  mendengar teriakan minta tolong. Dia kembali lagi. Tetap saja masih ada rasa takut sehingga dia kembali mundur. Sampai kali ketiga barulah Obet memberanikan diri untuk menolong.

“Langsung Obet bilang, bapa nanti saya tolong tapi saya takut jangan tembak saya. Margono jawab, senjata ini nanti saya buang ke bawah. Langsung dia buang senjata ke bawah itu yang Obet dia berani untuk tebang genemo,” cerita Mbari. 

Mencoba untuk berdiri, Margono justru pingsan. Nafasnya berhenti berdetak. Obet sempat mengira si tentara meninggal. Namun beberapa saat kemudian dia siuman lantas meminta air karena merasa sangat kehausan. Tapi di dekat tempat itu tidak ada sumber air. Ada kali namun jaraknya lumayan jauh. 

“Margono bilang air apa saja. Di dekat situ ada kubangan tempat babi biasa mandi. Obet ambil air bekas babi main itu untuk diberikan kepada Kopral Margono langsung dia minum dan rasa agak enakan,“ lanjut Mbari.

Setelah merasa agak baikkan, Obet lantas memapah Kopral Margono dan membawanya pulang ke rumah. Diapun dirawat dengan baik layaknya keluarga sendiri. 

“Dia amankan Margono sampai dirumah. Baru dia kasih tahu ke Margono, bapak kita jauh dari kota jadi tidak ada gula tidak ada beras. Tapi Margono bilang, apa yang kamu makan itu saya makan yang penting saya selamat,“ 

Obet  kemudian mengirim utusan turun ke kota Wasior untuk melaporkan penemuan Kopral Margono. Utusan yang dikirim Obet Sabarnao lantas menyampaikan pesan itu kepada Mbari yang pada saat itu merupakan anggota Hansip Desa Tandia (sekarang Tandia sudah dimekarkan menjadi 3 kampung).

 “Langsung saya ke Wasior bertemu polisi Suabey, Petrus Suabey (kepala pos polisi di kota Wasior),“ ucap Mbari. 

Segera setelah mendapat berita itu, Petrus Suabey membentuk tim untuk melakukan penjemputan Kopral Margono ke Urere. Tim yang dipimpin Suabey bersama beberapa orang lain termasuk Mbari sendiri kemudian berangkat ke Urere dengan berjalan kaki selama 1 minggu.

“Saat tiba di sana dia (Margono) takut jadi dia angkat tangan, dia bilang jangan bunuh saya. Tapi polisi Suabey bilang kita ke mari ini bukan untuk membunuh tapi kita amankan sesuai perintah dari Soekarno, “ tutur Mbari.

Dan akhirnya Kopral Margono dievakuasi ke Wasior dengan berjalan kaki selama lebih kurang 2 minggu. 

“Kitong jalan dari Urere kita bermalam di jalan. Kita bikin para-para (tandu) untuk bantu dipikul. Jalan sampai rasa capek kita istrirahat sampai  tembus di Ambumi (sekarang ibukota distrik Kuri Wamesa). Baru bawa dengan perahu ke Wasior, “ ujar Ayah 11 orang anak ini.

Setelah mendapat perawatan beberapa hari di Wasior, Kopral Margono akhirnya dijemput dengan pesawat Cessna di Bandara Wasior ke Manokwari dan selanjutnya ke Jakarta. Sejak saat itu Bandara Wasior diberi nama Bandara Margono untuk mengenang penyelamatan sang prajurit.

Kepada warga yang telah menolong dirinya, Kopral Margono kala iti berpesan bahwa dirinya akan melapor ke Presiden Soekarno dan atasannya agar memberikan imbalan bagi warga Wondama yang telah menyelamatkan nyawanya. 

“Tapi sampai saat ini saya belum terima apapun, tapi tidak masalah yang penting kami amankan selamatkan dia saja,“ujar pria yang lahir pada 11 Agustus 1945 ini.

Kini di masa tuanya, Mbari tidak menuntut apapun atas perjuangannya menyelamatkan Kopral Margono. Diapun tidak mempersoalkan kendati perjuangan mereka menyelamatkan nyawa prajurit Indonesia tidak pernah dikenang dalam sejarah bahkan nama merekapun tidak pernah diabadikan sebagai seorang pejuang.

“Saya tidak terima ada penghargaan atau yang lainnya. Saat itu kita banyak orang tapi banyak yang sudah mati. Kami tidak menuntut, pemerintah mau ingat kah tidak kah, nanti Tuhan yang kasih imbalan kepada kita, karena kita hanya ingin dia selamat, “ ucap Mbari.

Bagi Mbari termasuk pula Obet Sabernao, apa yang mereka lakukan itu sebagai wujud kasih terhadap sesama manusia. Sekaligus sebagai bentuk rasa cinta terhadap Tanah Air  sekalipun jasa dan pengorbanan mereka seperti diabaikan begitu saja.

“Saya harap Bangsa Indonesia semakin maju dan sejahtera sehingga bisa perhatikan masyarakat kecil seperti saya ini yang hidup masih susah,“ pungkas Mbari yang tetap terlihat gesit di usia senjanya. (Ant)